January 2, 2018

Akhirnya, Timor Leste (Bagian 1)



Gambar meminjam dari sini
Saya inget banget tahun 2012 ketika merencanakan perjalanan ke Nusa Tenggara, saya kepengen nerusin dari Flores sampai ke Timor Timur. Apa daya karena waktu itu keuangan terbatas, saya harus mengurungkan niat. 

Fast forward ke tahun 2017. Saya sedang sekolah lagi the University of Queensland, Australia, di mana di jurusan saya, para siswa diwajibkan melakukan praktikum alias kerja praktik. Kerja praktiknya bisa di organisasi mana saja, asalkan terkait aspek Communication for Social Change (CSC), secara jurusan itulah yang saya ambil. Saat lagi cari-cari info tempat mana saja yang berpotensi, saya diemail oleh seorang dosen saya. Beliau kebetulan terlibat dalam development project-nya Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR). Di proyek tersebut, ada implementasi konsep CSC. Nah, beliau nawarin saya praktikum di proyeknya, untuk melakukan kegiatan Participatory Video (PV). Kebeneran banget, saya baru dapet mata kuliah PV di semester sebelumnya dan lumayan penasaran dengan hal tersebut. Tanpa ragu-ragu, saya iyain dong tawarannya 👌.
 
Singkat cerita, saya didanai AU$1500 untuk praktikum selama 3 minggu di Timor Leste. Biaya ini ngepas, karena tiket Brisbane-Dili PP itu sudah makan AU$1100. Selama praktikum, saya hanya akan di Dili selama 3 hari, dan sisanya di desa. Akomodasi di Dili cukup mahal, dan Timor Leste pakai mata uang US Dollar pula (ngik!). But anyway, karena kebanyakan aktifitas saya akan di desa, dan di sana saya dapet harga sewa murah (nyewa rumah orang lokal), maka uangnya jadi cukup-cukup saja. Lagi pula, saya masih terima stipend dari beasiswa, so financial-wise ngga ada yang perlu dikhawatirkan. 

***

Brisbane ke Dili ngga ada penerbangan langsung, sehingga saya harus terbang ke Darwin dulu, baru lanjut ke Dili. Brisbane-Darwin sendiri menghabiskan waktu sekitar 3,5 jam, sedangkan Darwin-Dili hanya 1 jam 20 menit. Bandara Darwin ini menurut saya lumayan sederhana. Kecil, simpel gitu aja, dan opsi resto juga terbatas. Beda sama Brisbane, dan beda jauhhhh banget sama Melbourne dan Sydney (ya iyalahhhh).

Hamdallah penerbangan saya berjalan lancar. Pas mau mendarat saya sempet ngintip, dan kelihatan landscapenya Dili yang sedikit berbukit dan tepat di pinggir laut. Indah banget, mengingatkan saya pada Jayapura. 

Lalu sampailah saya di aeroporto Dili. Namanya ‘Presidente Nicolau Lobato International Airport’. Penampakannya kalau kata saya seperti airport di Kendari atau Palu: ngga terlalu besar, dan ruang kedatangannya agak dodgy. Saat sampai, saya langsung antre untuk dapetin Visa On Arrival. Biayanya US$30, dan si petugasnya akan nanya berapa hari di sana. Ketika saya bilang 20 hari, terus sama dia ditulis 20 hari. As it is banget ya! Jadi saran aja misalnya ada niatan mau ngapa-ngapain, mending kamu tambahin atau mentokin sampai 30 hari aja daripada tiba-tiba nyesel. Untuk proses imigrasinya sendiri mah cepet. 



Dari airport saya dijemput oleh koordinator proyek dan diantar ke penginapan. Si airport ini ternyata deket banget sama kota! Ke penginapan saya sekitar 3 km saja, dan ke kantor proyek hanya 1,6 km! Deket ya bok. Kalau soal keriwehan lalu lintas, mirip-miriplah sama Indo. Banyak mikrolet dan motor berkeliaran. Sementara untuk komunikasi, hamdallah ngga ada masalah. Orang-orang  dewasa di sini (yang masih mengalami periode penjajahan Indonesia) masih  bisa ngomong Indonesia. Jadi di airport, di penginapan, kami komunikasi dengan bahasa Indo.
 
Berhubung saya student dengan duit pas-pasan, saya menginap wisma dengan harga per malam US$30. Ini kayaknya udah paling murah deh di Dili. Kamarnya minimalis tenan, hanya tempat tidur, TV, kamar mandi dengan shower yang setengah rusak, dan tanpa wifi. Ya sud lah ya, toh saya udah beli paket internet dari Timor Telecom, jadi kalau perkara buat Whatsapp dan sosmed mah cukup. 

Project assistant saya sempat berpesan agar tidak keluar pondokan kalau sudah malam. Saya manut saja, walau so far orang di sini kelihatannya ramah. Sudah dua kali disapa 'Botarde' sama anak sekolah dan saya ngga bisa berkata apa-apa selain tersenyum (ngga ngerti cin!).  Ternyata oh ternyata, maksud mereka adalah 'Selamat sore'. Duh maafkan ya saya katro nih, basic phrases baru tahu ‘Obrigada’ doang. 

By the way, karena wisma pondokan ini sekedarnya, jadi mereka tidak menyediakan air mineral kemasan di kamar (ciyan yah). Tadinya saya mau beli di warung tempat saya beli makanan tadi sore tapi ternyata lagi habis. Warung di dekat hotel pun tutup. Untungnya bapak pemilik warung sangat baik hati. Dia rupanya orang Indonesia, asal Jawa Timur, dan sudah beberapa tahun terakhir buka warung nasi ayam plus lalapan (kayak pecel ayam) di Dili. Dia pun ngga keberatan ketika saya minta bungkus air putih dari dispensernya. "Ambil sendiri aja mba," katanya sambil menyodorkan kantong plastik bening. 

Hamdallah. Makasih ya Tuhan, semoga seterusnya saya selalu dipertemukan dengan orang-orang baik. 
 
(to be continued)

No comments:

Post a Comment