December 28, 2017

Enam Tahun Nomaden: Beberapa Pembelajaran

Tulisan di bawah ini khuseus saya buat untuk merayakan 10 tahun "Tempe", sebuah media jurnalisme kuning eleus-eleusnya gerombolan Komunikasi UI 2002. Maria Pade Rohana selaku pemred (iya dong walau eleus-eleus tetap ada pemrednya) mengatakan, "Tidak pernah terbersit di otak kami untuk merasa berisi dan berkualitas. Isinya (Tempe) ecek-ecek, curhat, cemooh, meski kadang ada kebijaksanaan insan belia,".  

Terakhir terbit 2007, Tempe diproduksi kembali di penghujung 2017 untuk merayakan nostalgia dan melankolia.

Sedap ngga tuh bro. 

“Eh gimana sih rasanya berpindah kota terus?” tanya beberapa orang teman ke gue. Hmmm… sebenarnya sih jeng, gue ngga ‘berpindah terus’. Gue hanya sempat tinggal di Papua, Sulawesi, dan Australia dalam kurun 6 tahun terakhir, dan sekarang sudah kembali ke kota asal. Jadi gue bukan nomad kelas kakap, karena gue yakin banyak di antara geng Kom 2002 yang lebih berkelana. Gue sendiri bukanlah tipe petualang atau penjelajah. Saat kuliah, banyak teman-teman memilih ngekos agar dekat ke kampus dan bebas dari orangtua, sementara gue tetap tinggal di rumah, dan commuting tiap hari. Gue juga bukan penghobi jalan-jalan yang tiap tahun mengunjungi tempat baru. Hingga dua puluh tujuh tahun di bumi, gue tidak pernah tinggal jauh dari rumah. Baru tahun 2011 gue mendapat pekerjaan di luar pulau, dan dari situ segalanya berawal. Anyway, balik lagi ke pertanyaannya, buat gue, berpindah-pindah itu menyenangkan, menantang, walau tentu saja ribet dan bikin rungsing. Tak hanya membuat hidup nano-nano (ketahuan referensinya lawas), berhijrah juga mengajarkan banyak hal, dan yang menurut gue paling esensial adalah sebagai berikut: 

1. Kamu hanya bisa bergantung pada dirimu sendiri.
  
Ini nih jeng gongnya, alias pelajaran terpenting dari kisah nomad gue. For your info, hidup merantau gue lalui sendiri, sebagai pejuang Long Distance Relationship (or shit?). Segalanya kudu mandiri, mulai dari bepergian, mencari tempat tinggal, mengurus diri, beradaptasi, dan bertahan hidup. Semua juga tergantung diri sendiri, mau sedih, senang, malas-malasan, ambisius, terserah, ini adalah hidup elu, sehingga yang jadi aktor utama ya elu sendiri. Dengan begitu, gue terbiasa beraktivitas solo: belanja ke supermarket, ke bioskop, hang-out, mencoba tempat baru, ikut kelas olahraga, nonton konser, maupun bepergian. Memang kadang terasa sepi, dan jadi pertanyaan teman yang heran lihat gue betah ngapa-ngapain sendiri. Ya lagi-lagi gue hanya punya diri sendiri, jadi kalau mau melakukan sesuatu ya lakukan saja, jangan berharap atau menunggu orang lain. Eh tapi ini bukan berarti gue kontra akan kegiatan komunal ya. Maksud gue adalah agar kita bergantung semata pada diri namun dengan tetap membuka diri. 

Karena sadar hanya punya diri sendiri, akibatnya gue jadi mahfum akan batas kemampuan. Ketika belanja mingguan atau bepergian tidak pernah bawa beban terlalu banyak (sebab belum tentu akan ada yang membantu), mengerjakan tugas kampus tidak ngoyo begadang (kalau besoknya sakit, berabe deh), tak melulu membebani diri dengan capaian target (anaknya emang ngga ambisius kaka), dan saat hang-out  menenggak maksimal dua gelas anggur atau alkohol saja (kalau kobam, siapa yang mau ngangkut bos). Basically sih lebih mikirin kemaslahatan pribadi jeng, dan tidak cari perkara. 

2. Penting untuk meminimalisasi barang kepunyaan (except perhaps books and shoes 😆).
 
Akibat kerap berpindah, gue tak punya banyak barang. Setiap kali cabut, gue hanya berbekal satu koper ukuran 28 inci dan ransel berisi keperluan utama. Sisanya gue akan lengkapi pelan-pelan di tempat baru. Gue juga selalu memilih tempat tinggal yang telah dilengkapi perabot sehingga tak perlu repot. Keinginan untuk beli macam-macam sih banyak, tapi  gue harus memikirkan bagaimana memuatnya di kamar (yang biasanya kecil), dan cara menyingkirkannya ketika gue berpindah lagi. Memang, barang tersebut bisa dibawa dan dipaketkan, namun ongkos ekspedisi antar provinsi atau antar negara itu mahal. Bisa juga sih ketika gue pindah, barangnya gue jual, lungsurkan, atau donasikan. Masalahnya,  namun kalau opsi-opsi tersebut gagal, maka aku kudu piye? Oleh karena itu, sebisa mungkin gue menghindari beli barang-barang yang kurang penting saat hidup nomaden.
Jika bisa dibungkus, hidup gue saat ini mungkin tak lebih dari beberapa kardus yang isinya didominasi oleh baju, sepatu, dan buku (kelemahan gue gaes). Di satu sisi, hidup lebih ringkas, tak banyak remeh-temeh, atau merasa terbebani materi dan keterikatan akannya. Namun di sisi lain, di saat orang seumuran gue menetap dan membangun sarang, gue malah tak punya barang. Di usia 33 ini, jangankan tempat tinggal atau kendaraan, gue bahkan tak punya televisi, radio, kulkas, kompor, mesin cuci, maupun AC. Kadang membuat gue membatin kala membandingkan hidup dengan orang lain, walau pada akhirnya gue sadar, kalau ini adalah pilihan gue and I’m happy with it. I already have the essentials, so the rest is kind of optional.  And you know, perhaps there’s nothing wrong with not owning things, iye ngga pemirsa? 
3. Realistis dan menakar ekspektasi.
Dulu, gue anaknya kalau berharap suka ketinggian, walhasil sering kecewa. Belajar dari pengalaman, ketika merantau, gue coba bersikap realistis. Misalnya, gue tidak berharap  fasilitas dan layanan di Papua dan Sulawesi lebih dari Jawa. Gue tak mau membandingkannya juga, karena pasti gue bisa mati gegara misuh-misuh kesel. Lebih baik gue nrimo dan berdamai dengan kenyataan, karena toh semua tempat unik, punya kelebihan dan kekurangan. Jakarta mungkin punya fasilitas dan peluang yang lebih baik, tapi udaranya berpolusi dan langitnya kelabu. Papua orangnya bersahabat sekali, tapi transportasi sulit. Australia udaranya enak, kotanya menyenangkan dan sangat berkalcer (cultured -red), tapi keluarga gue tidak ada di sana. Tinggal bagaimana gue mau menyikapi kondisi yang ada dengan sikap yang positif.
Saat mulai kuliah di Australia, gue lelah luar biasa akibat harus beradaptasi, sekaligus mikir melulu. Di situ, gue sengaja ngga mau mikirin nilai. Target gue ngga muluk-muluk, yang penting bisa menyelesaikan semester dengan utuh (ngga tercabik-cabik kaka). Saat things went south pun gue hanya menarik nafas panjang dan berkata dalam hati ‘Ya sudah lha ya’. Capek aku Kak Ema kalau harus terus emosi akibat siksaan ekspektasi. Lantas, dengan nrimo ini apakah membuat gue jadi bland? Mungkin iya mungkin tidak, namun yang jelas, gue jadi lebih tenang dan lekas move on. Dalam kasus gue, nampaknya harapan menciptakan tekanan serta batasan, dan ketika semua itu direduksi dengan sikap woles aja sob, sangat membantu gue agar tidak kepayahan. Besides, pada akhirnya, semua baik-baik saja kok. 
4. Teman mengerucut, dan itu wajar.
Ketika berangkat ke Papua, gue sedih karena saposey coba yang akan gue ajak hang-out di akhir pekan? Gue gugup karena meninggalkan semua di Jakarta, yang membuat gue harus mulai dari awal lagi, dan itu ngga gampang. I’m not really good at making friends, ngga gampang klik sama orang, makanya kejet-kejet banget. Apalagi saat itu gue sudah ‘berumur’, dan gue ngerasa semakin tua, semakin sulit untuk cultivate friendship karena kita sudah punya standar nilai untuk menyeleksi orang. Ditambah, gue bukan social butterfly pula, jadi yuk mari makin susah deh.  Namun lagi-lagi, pada akhirnya semua akan baik-baik saja karena setelah beberapa bulan, gue pun punya teman (walau sedikit)! 

Selama di rantau, gue selalu menjaga komunikasi dengan kawan-kawan lama, namun memang kepindahan ini bagai menyortir sobat gue secara drastis. Gue sadar bahwa pengerucutan jumlah teman adalah suatu keniscayaan seiring dengan bertambahnya usia, tapi hal tersebut seperti dipercepat dengan kepindahan-kepindahan gue. Alhasil, setelah seleksi alam 3 kali (karena 3 kali pindah), jumlah teman gue sekarang bisa dihitung dengan jari. Istilahnya crème de la crème lah orang-orang ini. Mereka adalah orang-orang yang tetap tinggal ke mana pun gue melanglang. Mereka ngga macem-macem, ngga harus sering ketemu fisik atau konstan berkabar, tapi mereka selalu ada dan peduli. Gue juga jadi lebih menghargai keberadaan teman-teman yang sudah tersaring 3 kali ini. I stop taking them for granted. Never again.  

Gue pun menyadari bahwa persahabatan itu punya masa kadaluarsa. Terkadang teman yang dulu rasanya nyambung banget, tetiba pada suatu masa sudah ngga sejalan, sehingga ya udah berpisah saja, ngga kontak lagi. Dan ini semua tuh normal, ngga perlu ditakutkan. Jumlah relasi boleh sedikit, namun kualitas dan kedalaman hubungannya solid, dan gue pikir itulah yang lebih kita butuhkan. 

5. Masih ada harapan untuk Long Distance Relationship (LDR). 

Gue sepertinya adalah salah satu orang yang ditakdirkan untuk LDR. Jaman kuliah gue sempat pacaran LDR, dan ketika gue merantau, kebanyakan porsi hubungan-hubungan yang dijalani adalah skema jarak jauh. Dalam relasi tersebut, jarak tak menjadi alasan kandasnya asmara. Biasanya kalau putus ya karena ngga cocok aja, walau harus gue akui, berada jauh dari pasangan suka bikin senewen terutama kalau lagi butuh dukungan moral, atau berkelahi. Untung saja teknologi sudah maju, bisa Skype, Google Hangout, atau Whatsapp call-an sehingga mempermudah komunikasi. Tapi ya tetap, ngga ada yang ngepuk-puk you can do this, atau meluk it’s okay, everything’s gonna be fine. Paling banter ya hanya  ucapan dan ekspresi penuh pengertian saja (ini juga lihatnya dari layar HP/laptop yang tetiba bisa makbyar gambarnya pixelated karena koneksi jelek). Belum lagi kalau berantem, kan ngga enak ketika ngga bisa langsung ngomong atau berdebat. Mana afdol marah-marah di Skype atau Whatsapp? Pengennya in-your-face gitu kan jeng. 
 
Walau banyak ngga enaknya, LDR tetap worth-considering. Keuntungannya adalah kalau kita butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri dulu ya benar-benar dapat, secara gampang sekali untuk ngilang, dan kecil kemungkinan si dia akan tiba-tiba muncul di hadapan kecuali jarak kotanya dekat. Kalau kudu beli tiket pesawat yang PP-nya minimal 3 juta sih kalau cuma berantem ngga  akan disamperin ya jeng. Selain itu karena kesempatan bertemu yang terbatas, maka prioritasnya adalah quality time. Tidak harus sering, tapi setiap bersua itu benar-benar spesial, dan sebisa mungkin menjaga emosi agar terhindar dari konflik (masa sudah susah-susah, terus pas bareng malah berantem? Rugi amat). Kangen pun jadi lebih ngeresep  sampe ke tulang kayak ayam kalasan, sehingga lebih menghargai kebersamaan. Di samping itu, keterbatasan jarak (dan ketidakbisaan sidak langsung) juga membantu kita untuk belajar menumbuhkan kepercayaan ke pasangan, dan ini adalah kunci. 

Gue pacaran LDR selama 2 tahun sebelum akhirnya menikah. Saat ini, kami sudah menikah selama 2 tahun, dan lebih dari 80 persen dari hubungan tersebut dijalani secara jarak jauh. Pas jaman gue kuliah S2, ketemunya hanya tiap libur semester dan itupun ngga lebih dari 3 minggu. Berat banget rasanya jeng, akan tetapi ketika mengingat kembali bahwa back-to-school adalah untuk kebaikan bersama, maka ‘Ya sudah lha ya’ menjadi mantra utama gue. Kini pun gue dan suami masih semi-LDR karena husbro kerja di Bandung, dan hanya balik ke Jakarta setiap Jumat. Dengan berada dalam LDR, gue semacam terus diingatkan bahwa gue hanya bisa bergantung pada diri sendiri, oleh karena itu walaupun sudah punya suami, tetap harus berdikari. LDR memang diciptakan tidak untuk semua orang. It’s damn tough, tapi menurut gue hubungan macam ini bisa banget berjalan, asalkan kedua belah pihak saling percaya, dan yang terpenting: mau mengusahakan.  

***

Bulan Desember ini genap sudah 5 bulan gue kembali ke Jakarta. Nampaknya gue masih akan di sini untuk beberapa saat, walau bukan mustahil akan kembali hijrah di masa mendatang. Buat gue, pindah kota bukanlah momok, melainkan sesuatu yang asik-asik ngehe J. Lagi pula, in the end we just gotta keep moving, ye kan? Akhirul kata, semoga apa yang gue tulis make sense ya gaes. Kacau sih alur dan diksinya, secara bukan anak jurnalistik (auww) dan ngerjainnya pake sistem kebut semalam pula (some things just never change).

No comments:

Post a Comment