Showing posts with label daily life. Show all posts
Showing posts with label daily life. Show all posts

January 2, 2018

Akhirnya, Timor Leste (Bagian 1)



Gambar meminjam dari sini
Saya inget banget tahun 2012 ketika merencanakan perjalanan ke Nusa Tenggara, saya kepengen nerusin dari Flores sampai ke Timor Timur. Apa daya karena waktu itu keuangan terbatas, saya harus mengurungkan niat. 

Fast forward ke tahun 2017. Saya sedang sekolah lagi the University of Queensland, Australia, di mana di jurusan saya, para siswa diwajibkan melakukan praktikum alias kerja praktik. Kerja praktiknya bisa di organisasi mana saja, asalkan terkait aspek Communication for Social Change (CSC), secara jurusan itulah yang saya ambil. Saat lagi cari-cari info tempat mana saja yang berpotensi, saya diemail oleh seorang dosen saya. Beliau kebetulan terlibat dalam development project-nya Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR). Di proyek tersebut, ada implementasi konsep CSC. Nah, beliau nawarin saya praktikum di proyeknya, untuk melakukan kegiatan Participatory Video (PV). Kebeneran banget, saya baru dapet mata kuliah PV di semester sebelumnya dan lumayan penasaran dengan hal tersebut. Tanpa ragu-ragu, saya iyain dong tawarannya 👌.

December 30, 2017

Perdana ke Puskesmas


Puskesmas dekat rumah. Gambar meminjam dari sini

Dua hari lalu saya perdana pergi ke Puskesmas dekat rumah. Ini gara-gara suami sudah beberapa hari ngga enak badan. Karena takut sakitnya jadi berkepanjangan dan ngga tuntas, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke dokter. Tadinya juga mau ke klinik yang biasa saya datangi, namun karena dengar pengalaman positif si mama berobat di Puskesmas, maka kita tertarik juga untuk coba. 

December 28, 2017

Enam Tahun Nomaden: Beberapa Pembelajaran

Tulisan di bawah ini khuseus saya buat untuk merayakan 10 tahun "Tempe", sebuah media jurnalisme kuning eleus-eleusnya gerombolan Komunikasi UI 2002. Maria Pade Rohana selaku pemred (iya dong walau eleus-eleus tetap ada pemrednya) mengatakan, "Tidak pernah terbersit di otak kami untuk merasa berisi dan berkualitas. Isinya (Tempe) ecek-ecek, curhat, cemooh, meski kadang ada kebijaksanaan insan belia,".  

Terakhir terbit 2007, Tempe diproduksi kembali di penghujung 2017 untuk merayakan nostalgia dan melankolia.

Sedap ngga tuh bro.